Tes DNA Sexing untuk Menentukan Jenis Kelamin Kenari

Burung kenari merupakan salah satu jenis burung, yang baik jantan maupun betinanya memiliki ciri fisik yang serupa. Karena secara fisik sama, para pencinta burung biasanya kesulitan untuk membedakan jenis kelamin burung kenari melalui tampilan luarnya (morfologi).

Pengetahuan jenis kelamin burung kenari sejak dini adalah hal yang penting. Terutama bagi mereka yang memiliki penangkaran kenari. Sebab kesalahan dalam menentukan jenis kelamin akan membuat proses perkembangbiakan terhambat atau bahkan gagal.

Mengapa Pemilik Harus Mengetahui Jenis Kelamin Burung Mereka?

Source - pixabay
Source – pixabay

Sebelum membahas tentang DNA sexing, mari kita bahas dulu tentang keuntungan mengetahui jenis kelamin kenari sejak dini, di antaranya:

  1. Burung kenari dapat dikawinkan sejak dini agar menjadi bibit induk super.
  2. Tidak membuang-buang waktu menjodohkan burung sampai mereka cocok. Jika jenis kelamin diketahui lebih cepat, kita bisa langsung menjodohkan kenari yang dimiliki dengan burung kenari jantan atau betina.
  3. Menghindari perjodohan sesama jenis yang dapat memicu perkelahian pada burung kenari saat disatukan dalam satu satu kandang sehingga membuat nilai investasi menjadi turun atau bahkan hilang jika burung tersebut mati.
  4. Burung kenari yang memiliki sertifikat jenis kelamin, harga jualnya cenderung lebih tinggi daripada anak kenari biasa yang belum diketahui jenis kelaminnya.

Kenapa Harus DNA Sexing?

Source - job-like
Source – job-like

Beberapa tahun belakangan, para pecinta burung menemukan metode baru dalam menentukan jenis kelamin selain melihat ciri-ciri fisik burung. Metode ini dianggap akurat dan terbukti secara ilmiah memiliki tingkat keberhasilan hingga 99 %. Metode tersebut dikenal dengan DNA sexing atau metode penentuan kelamin burung menggunakan tes DNA (Deoxribose Nucleat Acid).

DNA sexing menggunakan teknologi molekuler dalam proses penelitiannya terhadap DNA burung. Berbeda dengan manusia, DNA sexing pada burung menggunakan bulu sebagai sampel untuk diteliti.

Bulunya pun tidak sembarangan. Bulu yang digunakan untuk sampel berasal dari ekor bagian dalam, harus bersih, dan tidak terkontaminasi dengan cairan atau kotoran sedikit pun. Karena itulah saat mengambil sampel, diharapkan tangan atau alat yang digunakan cukup bersih.

Biasanya, peneliti akan mengambil sekitar 4-6 helai bulu sebagai sampel saat melakukan metode DNA sexing. Bulu-bulu tersebut nantinya akan diberi enzim khusus yang dapat membantu untaian DNA-nya terurai agar peneliti bisa menentukan jenis kelaminnya.

Selain mikroskop, alat yang dibutuhkan pada proses DNA sexing adalah enzim PCR yang berfungsi untuk memperbanyak DNA dan gel agarosa yang dapat mengklasifikasikan untaian DNA yang membentuk gel. Dari sini peneliti dapat memutuskan sampel yang diambil berasal dari burung kenari jantan atau betina.

Jika dibandingkan dengan metode lain seperti pendulum atau pengenalan fisik, metode DNA sexing cenderung lebih mahal. Hal ini terjadi karena alat yang digunakan untuk melakukan tes cukup mahal. Para penelitinya pun berasal dari kalangan profesional yang terlatih dan cukup mumpuni dalam bidangnya.

Setelah melakukan metode ini, lembaga atau peneliti yang melakukan metode DNA sexing biasanya akan mengeluarkan sertifikat resmi yang juga dapat digunakan sebagai identitas burung kenari. Dalam sertifikat tersebut akan ditulis secara gamblang jenis kelamin kenari yang kita miliki sehingga saat ingin menjualnya, kita tidak perlu repot-repot melakukan tes jenis kelamin lagi untuk meyakinkan pembeli.

Perbedaan jenis kelamin pada burung kenari ternyata berpengaruh pada harga jual burung tersebut. Tidak heran jika pemilik burung merasa harus mengetahui jenis kelamin burung kenari mereka, terutama yang berusia di bawah 6 bulan dan pada masa produktif.

Jadi, apakah Anda tertarik untuk mengetahui jenis kelamin kenari menggunakan metode DNA sexing. Meskipun prosesnya terlihat lebih rumit dari metode lain yang lebih sederhana, tetapi hasil yang didapatkan dari metode ini dijamin akurat dan terbukti secara ilmiah.

Semoga informasi di atas bermanfaat.

Tinggalkan Komentar