Serba-Serbi Lovebird Holland

Mengingat asal mula burung lovebird dari Afrika, tanah Indonesia yang memiliki kondisi alam hampir serupa tentunya lebih potensial untuk menghasilkan spesies yang lebih berkualitas. Namun, hal-hal seperti kurangnya pengetahuan para peternak kerap menjadi penghalang. Alhasil, kualitas burung-burung yang dihasilkan pun sering kalah dengan kualitas impor. Burung lovebird Holland ini merupakan salah satu contoh.

Sesuai dengan namanya, burung lovebird Holland ini memang berasal dari negeri kincir angin, Belanda. Meski begitu, tempat asalnya yang jauh tidak mengurangi popularitas burung lovebird ini di kalangan pencinta tanah air. Burung ini memiliki ciri fisik yang sedikit berbeda, yaitu ukuran tubuhnya yang relatif lebih besar daripada burung lovebird lokal.

Ciri Fisik

Source - pixabay
Source – pixabay

Dengan ukuran tubuh yang lebih besar dan gagah, burung lovebird Holland kerap kali diidolakan oleh pencinta burung. Di luar ukuran tubuh, ciri fisik lain seperti warna bulu relatif sama dengan varian burung lovebird lokal. Burung lovebird Holland memiliki warna dominan hijau dari ekor, sayap, hingga batas leher. Dari leher hingga paruh burung dibalut dengan sentuhan warna merah keemasan.

Ciri fisik yang dimiliki burung lovebird Holland melekat kuat pada cara pembudidayaan di tempat asalnya. Sementara di tanah air para peternak sering melakukan kawin silang untuk mendapatkan spesies yang ‘unik’, di Eropa lebih mengutamakan garis keturunan murni.

Selain itu, seleksi induk juga sering dilakukan oleh peternak. Hanya burung dengan badan lebih besar yang dipilih untuk diternakkan. Jika pemilihan ukuran ini dilakukan terus-menerus, setelah beberapa generasi akan terjadi standarisasi untuk ukuran burung.

Perawatan

Source - wikimedia
Source – wikimedia

Dikarenakan tempat asalnya yang memiliki kondisi alam berbeda dengan Indonesia, perawatan burung lovebird Holland pun tak bisa dilakukan sembarangan. Perlu kecermatan dan kesabaran agar burung ini bisa beradaptasi dengan kondisi lokal, terutama iklim dan cuaca. Oleh karena itu, diperlukan perawatan yang ekstra di awal-awal, kecuali bagi burung yang sudah tinggal relatif lebih lama di Indonesia.

Contoh perawatan yang dilakukan ialah cara memandikan burung. Pertimbangan seperti kondisi cuaca dan suhu lingkungan perlu diperhatikan. Pada musim kering dengan kelembapan udara lebih tinggi, frekuensi memandikan burung bisa lebih sering dibandingkan dengan musim hujan atau saat iklim lebih stabil.

Untuk hal lainnya, seperti kebersihan kandang, bisa diperhatikan selayaknya kebersihan kandang untuk burung jenis lainnya. Rutin membersihkan kandang dapat mengurangi stres pada burung.

Pakan

Source - pixabay
Source – pixabay

Meskipun menuntut perawatan yang sedikit berbeda, untungnya dalam hal pakan, burung lovebird Holland ini tidak ‘banyak maunya’. Sama seperti burung lovebird jenis lokal, pemilik bisa memberikan pakan berupa biji-bijian dan sayur-sayuran. Sayur yang diberikan bisa berupa kangkung, sedangkan biji-bijian bisa lebih beragam: jagung muda, biji bunga matahari, dan sebagainya.

Hal yang terpenting, pemberian pakan dilakukan secara rutin untuk menjaga asupan nutrisi. Berikan juga jenis pakan yang bervariasi guna mencegah kejenuhan pada burung. Selain itu, pemberian vitamin minimal sebulan sekali juga perlu dilakukan.

Harga Burung

Source - Publicdomainpictures
Source – Publicdomainpictures

Harga selalu mengikuti pasar, dan pasar cenderung tidak stabil atau berubah-ubah. Begitu pula dengan harga burung lovebird Holland. Dibandingkan dengan burung lovebird lainnya, harga burung ini bisa dikatakan mahal, terlebih bagi burung yang sering memenangkan lomba.

Serba-serbi di atas merupakan sedikit pembeda antara burung lovebird Holland dan jenis lokal. Sedikitnya, Anda jadi bisa melihat keunggulan pada burung jenis impor ini. Perawatan dan praktik pembudidayaan yang baik dari peternak di luar sana adalah kunci untuk kualitas burung.

Tinggalkan Komentar