Menjodohkan Indukan Burung Jalak Bali

Satu tahapan penting dalam penangkaran burung Jalak Bali adalah penjodohan. Kita harus cermat melihat apakah pasangan indukan tersebut benar-benar berjodoh, bukan hanya sekadar berpasangan. Loh, bukankah burung yang sudah berpasangan pasti berjodoh?  Pada penangkaran burung, keduanya tidak selalu sama.

Lalu bagaimana cara menjodohkannya, tanda-tanda jika pasangan indukan tersebut berjodoh, perawatan telur, serta anakannya? Tenang, kami akan berikan informasinya untuk Anda. Yuk, kita simak artikel berikut ini.

Menyiapkan Indukan

Source - youtube
Source – youtube

Jika tidak ingin membeli pasangan indukan yang sudah jadi atau benar-benar berjodoh, Anda bisa melakukan proses penjodohan sendiri terhadap calon indukan burung Jalak Bali jantan dan betina. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan kedua calon indukan sudah berumur cukup, yakni dengan usia ideal sekitar 1 tahun lebih.

Setelah itu, masukkan indukan burung jantan dan betina dalam kandang penangkaran dengan ukuran minimal panjang 2,5 meter, lebar 90 cm hingga 3,5 m dan tinggi 2,7-3,5 meter. Burung Jalak Bali dikenal menyukai sarang yang letaknya agak tinggi.

Tanda Indukan Berjodoh

Source - abangkicaumania
Source – abangkicaumania

Selanjutnya, biarkan kedua indukan beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mengenal  lebih dekat dengan calon pasangannya. Calon indukan yang sudah berjodoh dan memasuki fase birahi akan ditandai dengan perilaku Jalak Bali yang mulai mengoceh (berkicau) sepanjang hari. Dari pagi hingga sore hari, baik si jantan dan si betina akan berkicau terus.

Setelah munculnya tanda perilaku tersebut biasanya akan segera diikuti dengan proses perkawinan. Oleh karena itu, Anda harus menyiapkan kotak sarang terlebih dahulu yang diletakkan dalam posisi di bagian atas kandang. Meski bahan sarang sudah Anda letakkan di dalam kotak sarang, sebagian bahan sarang tetap perlu ditebarkan di lantai kandang untuk dapat merangsang birahi kedua burung.

Bertelur dan Pengeraman

Source - jalakbalijogja
Source – jalakbalijogja

Sekitar 1 sampai 2 minggu setalah kawin, kedua indukan akan mengangkut bahan sarang di lantai kandang, dan membawanya ke kotak sarang. Induk betina akan bertelur sebanyak 2 hingga 3 butir, kemudian mengerami telurnya selama 14 hari hingga menetas.

Setelah menetas, anakan tetap dibiarkan dalam pengasuhan kedua induknya hingga berumur 6-7 hari. Lain halnya jika indukan memiliki karakter tidak bisa merawat anaknya atau suka membuang piyiknya. Jika hal itu terjadi, waktu pemanenan bisa dipercepat pada umur 2 hari. Sifat ini baru bisa diketahui jika induk betina dalam beberapa kali proses reproduksi sering terlihat berperilaku seperti itu.

Memanen Anakan

Source - gudangjalakklaten
Source – gudangjalakklaten

Begitu dipanen, anakan langsung dimasukkan ke kotak inkubator khusus anakan. Konsekuensi dengan metode perawatan anakan dengan cara seperti ini adalah Anda harus meloloh piyikan secara berkala. Intinya, ketika anakan sudah mulai membuka paruhnya lebar-lebar sambil berteriak-teriak, itu berarti sudah waktunya diberi pakan.

Menggunakan metode penyapihan, selain dapat meningkatkan kualitas anakan, juga bisa meningkatkan produktivitas dari sang indukan. Sebab, begitu anakannya dipanen, pasangan indukan akan segera menjalankan tugas reproduksinya lagi, yakni kawin, bertelur, mengerami, dan mengasuh anakannya yang baru menetas.

Beberapa penangkar Jalak Bali terkadang mengistirahatkan induk betina terlebih dahulu sebelum memulai proses penjodohan dan kembali bereproduksi. Selama masa istirahat, indukan mesti dirawat dengan baik, tetap diberikan pakan yang berkualitas, dilakukan penjemuran, dan diberikan kesempatan mandi.

Demikianlah sedikit informasi tentang cara menjodohkan indukan Jalak Bali yang bisa kami bagikan, semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang tengah menjodohkan Jalak Bali. Semoga Sukses.

Tinggalkan Komentar