Berkenalan Lebih Dekat dengan Burung Gereja

Salah satu satwa liar yang cukup “akrab” dengan keseharian manusia adalah burung gereja. Dinamakan demikian karena hewan ini memang biasa hidup dan bertengger di mana saja, termasuk di halaman rumah dan atap gereja.

Meskipun bukan tergolong burung hias yang dipelihara di dalam sangkar, burung gereja memiliki suara yang sangat khas dan unik. Di negara-negara Eropa sana, burung ini sangat populer, sebab berkat burung inilah nuansa gereja-gereja besar di Benua Biru tersebut terasa makin semarak.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai burung mungil ini, ada baiknya Anda mengetahui klasifikasi burung gereja berikut.

Burung Gereja

Source - pixabay
Source – pixabay
  • Kerajaan: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Aves
  • Ordo: Passeriformes
  • Upaordo: Passeri
  • Infraordo: Passerida
  • Superfamili: Passeroidea
  • Famili: Passeridae
  • Genus: Passer
  • Spesies: Passer domesticu

Burung ini umumnya hidup secara bergerombol di kota dengan anggota yang jumlahnya cukup banyak. Selain burung gereja, satwa ini juga sering disebut dengan pipit kecil. Bedanya hanya pada corak cokelat dan hitam di sekitar muka, dari mulai kepala sampai tengkuk.

Jika diamati, burung gereja memiliki postur tubuh yang kecil tapi gemuk. Bulunya berwarna cokelat kelabu, ekornya pendek, dan punya paruh yang kuat untuk memakan biji-bijian favoritnya. Ukurannya berkisar 12,5-4 cm. Kecil memang, tapi suaranya tak kalah cantik dengan burung-burung lain.

Habitat Asli Burung Gereja

Source - pixabay
Source – pixabay

Masing-masing burung gereja mempunyai habitat yang berbeda, seperti burung gereja passer, burung gereja petronia, dan burung gereja montifringila yang ditemukan di dataran Afrika yang gersang.

Beda lagi dengan burung gereja yang terdapat di tanah Amerika sana. Burung gereja jenis domesticus ini umumnya hidup di atap-atap gereja dan bangunan besar lainnya. Nah, kalau burung gereja yang setiap hari kita lihat adalah jenis passer domesticus. Meskipun terlihat sama, sebetulnya mereka berbeda.

Beda Burung Gereja Jantan dan Betina

Source - pixabay
Source – pixabay

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa burung gereja memiliki suara yang cukup nyaring. Namun, hal tersebut hanya berlaku pada burung gereja jantan. Sebaliknya, burung gereja betina tidak punya kicau yang keras. Nah, untuk membedakan apakah itu burung gereja jantan atau betina, bisa diamati lewat:

  • Gereja jantan punya warna bulu yang cokelat kehitaman, tenggorokannya juga berwarna hitam. Betina punya tenggorokan dengan corak kecokelatan
  • Bagian kepala gereja jantan berwarna abu-abu, sedangkan yang betina berwarna cokelat
  • Warna bulu pada gereja jantan hitam pekat, sedangkan pada gereja betina cenderung lebih cerah
  • Saat musim kawin, warna paruh pada burung gereja berubah. Jantan berwarna gelap, sedang pada betina berwarna kecokelatan. Selain musim kawin, warna paruh keduanya tetap sama: kecokelatan

Saat Musim Kawin

Source - pixabay
Source – pixabay

Sama seperti makhluk hidup lain, burung gereja juga melewati masa reproduksi untuk meneruskan generasinya. Saat musim kawin tiba, biasanya gereja jantan akan memikat betina dengan memamerkan sarang yang sudah dibuatnya.

Bagaimana caranya? Selain terus bercicit nyaring, gereja jantan juga akan memperlihatkan tarian-tarian unik sembari membuka sayapnya lebar-lebar. Namun, tidak semua cara tersebut disukai betina. Alih-alih melakukan proses kawin, ajang cari perhatian tersebut justru sering berakhir pertarungan, terutama jika si betina sedang tidak ingin diganggu.

Burung gereja sendiri merupakan satwa yang tidak setia alias senang berpoligami. Jadi tidak heran kalau dalam satu sarang bisa ditemukan satu betina dengan banyak jantan di sana.

Nah, itu dia sekilas informasi mengenai burung gereja yang perlu Anda ketahui. Semoga bisa makin menambah wawasan Anda tentang dunia satwa, ya.

Tinggalkan Komentar