Awas Tarung Risiko Menjodohkan Jalak Suren Sistem Koloni

ternak burung jalak suren

Setelah mengetahui cara dan alasan menjodohkan burung jalak suren dengan sistem koloni, bahasan berikutnya adalah mengenai kekurangan dan risikonya.

Salah satu alasan orang memilih sistem koloni adalah karena jenis kelamin burung belum ketahuan dan ingin irit modal. Harga burung yang belum jelas jenis kelaminnya memang lebih murah daripada indukan yang sudah pasti jantan atau betinanya. Karena belum ketahuan, persentase jenis kelaminnya masih 50:50. Nah, agar kemungkinan mendapat jantan dan betina lebih besar, caranya adalah dengan memasukkan banyak burung sekaligus.

Di sinilah teori kemungkinan berlaku. Semakin banyak burung yang dimasukkan, semakin besar pula kemungkinan adanya perbedaan jenis kelamin. Ibarat melempar dadu, perbandingannya satu banding enam. Jika ingin mendapatkan angka enam, semakin sering dadu dilempar, kemungkinan keluarnya angka enam akan semakin besar dibandingkan jika hanya dilempar sekali. Begitu juga dengan burung. Jika yang dimasukkan cuma dua ekor, kemungkinan mendapat sepasang jantan betina sangat kecil jika dibandingkan dengan memasukkan empat ekor burung atau lebih. Intinya, semakin banyak burung, kemungkinan mendapatkan sepasang jalak suren siap tangkar memang semakin besar.

Namun, di sinilah letak kekurangannya. Semakin banyak burung, modal yang dikeluarkan juga akan semakin membengkak. Padahal, cara ini dipilih awalnya agar modal yang keluar lebih kecil daripada harus membeli indukan yang sudah berproduksi. Lalu, bagaimana agar tetap irit sesuai kantong? Caranya, kita harus mengerti karakter burungnya—kembali lagi ke analogi dadu tadi, hehe. Jika sudah mengerti karakternya, melempar dadu bukan lagi sekadar tebakan, melainkan sebuah keahlian. Begitu juga dengan burung. Jika kita sudah mengenal karakternya, memprediksi jantan atau betinanya akan lebih mudah. Jadi, kita cukup memasukkan burung dalam jumlah sedikit (sepasang atau genap) yang menurut prediksi fisik kemungkinan besar adalah jantan dan betina.

menjodohkan jalak suren

Meskipun burung yang dicampur cuma dua ekor dan sudah positif berjenis kelamin jantan dan betina, risiko tarung masih tetap ada. Terlebih lagi jika salah satunya agresif atau pejantannya sedang over birahi, pasti burung yang satunya akan dikejar-kejar. Jika pemilik kandang tidak mengontrol atau tidak tahu, bisa-bisa burung yang kalah akan dihajar sampai mati. Kejadian seperti ini sudah banyak dialami oleh para penangkar, baik pemula maupun yang sudah lama menangkarkan jalak suren.

Sebagai catatan penting: indukan yang sudah berkali-kali berproduksi pun bisa tiba-tiba berkelahi. Jika tidak segera ketahuan oleh pemiliknya, salah satu dari mereka bisa mati. Dan ingat, yang kalah belum tentu betinanya. Banyak juga kejadian pejantan yang malah mati dihajar oleh betinanya.

Itulah risiko yang sering terjadi jika kita mencampur burung jalak suren. Sebagai penutup dan pengingat: jangan sekali-kali mencampur burung jalak suren jika mereka belum saling mengenal atau berasal dari koloni yang berbeda.

Selesai membahas kekurangan (masalah jumlah burung dan modal), sekarang kita bahas risikonya. Risiko utama mencampur burung jalak suren yang baru kenal ke dalam satu kandang adalah tarung atau berkelahi.

Tinggalkan komentar