Merpati Batu dan Keunikannya

Tidak hanya bisa ditemukan di alam liar, merpati batu juga memiliki kemampuan navigasi yang luar biasa ini. Cari tahu lebih dalam tentang karakter dan keunikannya di sini!

Sebagai salah satu burung yang dekat dengan manusia, keberadaan merpati bisa kita temukan di mana saja. Salah satunya ialah jenis merpati batu, atau sebagian orang juga menyebutnya merpati karang atau dara karang. Salah satu ciri yang paling sering ditunjukkan ialah bertengger di atap bangunan dan senantiasa hidup berkelompok.

Untuk mengenal lebih jauh lagi, mari simak ulasan tentang merpati batu berikut.

Karakter Merpati Batu

Source - pixabay
Source – pixabay

Ciri fisik yang dapat diidentifikasi pada merpati batu sangat beragam. Burung ini didominasi warna bulu abu kecokelatan. Di sekujur leher hingga dada terdapat corak halus berwarna-warni; umumnya hijau dan ungu yang berkilau. Sedangkan pada mata, pupil merpati batu memilki warna oranye emas dengan lingkar berwarna hitam.

Selain itu, di pangkal paruh burung merpati juga terdapat operculum putih serupa tambalan. Sama seperti burung-burung lainnya, operculum inilah yang mencegah air masuk ke dalam rongga hidung saat burung mematuk mangsa dalam air.

Karakter fisik burung merpati batu jantan dan betina relatif mirip. Hanya saja, corak warna-warni di leher betina tampak lebih samar daripada yang jantan. Di luar itu, ciri fisik burung tergolong lebih spesifik dibanding jenis merpati lainnya, yang mana memilki corak warna lebih bervariasi, serta pola-pola tertentu pada sayap dan ekor.

Habitat merpati batu

Source - pixbay
Source – pixbay

Di luar habitatnya yang dekat dengan manusia, burung merpati batu juga dapat ditemukan di alam liar. Umumnya, burung ini hidup dan berkembang biak di pinggir tebing di daratan Eropa, Afrika Utara, dan kawasan-kawasan lainnya di Asia Barat.

Menurut banyak studi, jenis merpati batu sudah ada sejak kurang lebih tiga ratus ribu tahun yang lalu. Dalam sejarah pun, burung merpati dikatakan dekat dengan manusia sejak lama. Oleh karena itulah, sulit untuk menjajaki secara mutlak habitat asli burung ini.

Di alam liar, burung merpati batu biasa berkembang biak di pinggir tebing dan pesisir pantai. Sedangkan dalam lingkup manusia, burung merpati tersebar di perkotaan dan desa-desa di seluruh dunia.

Usia merpati batu di penangkaran bisa mencapai 15 tahun, sedangkan di alam liar tergolong sebentar, yaitu 3 sampai 5 tahun. Hal ini dikarenakan adanya pemangsa, perburuan liar, serta perusakan ekosistem.

Pada musim kawin, merpati batu kerap dijumpai berpasangan. Namun, dalam situasi lain, burung ini merupakan jenis yang hidup dalam kelompok.

Burung pengantar surat

Source - pixabay
Source – pixabay

Di luar hal-hal awam di atas, ternyata burung merpati batu memilki keunikan yang cukup menarik. Burung jenis ini dikatakan memiliki kemampuan navigasi yang luar biasa. Dengan memanfaatkan medan magnet bumi, posisi matahari, suara, dan bau, merpati batu dapat menemukan jalan pulang sekali pun dilepas dari tempat yang jauh dalam mata tertutup.

Berdasarkan catatan sejarah, kemampuan luar biasa tersebut telah dimanfaatkan untuk banyak tujuan oleh negara-negara yang berperang. Contohnya, dalam kurun tahun 1250-1517 M, Dinasti Mamluk Mesir menggunakan burung ini sebagai pengirim pesan rahasia kala berperang dengan bangsa Mongol.

Hal lain juga terjadi pada pengepungan kota Paris dalam Revolusi Perancis 1871. Pengiriman berita tentang keadaan saat itu menggunakan jasa merpati. Tidak hanya itu, pada Perang Dunia I dan II, sekitar 500.000 merpati juga digunakan sebagai kurir.

Unik bukan? Di Indonesia sendiri, meskipun bukan habitat asli merpati batu, kita tetap cukup sering menemukannya di setiap pelosok kota. Populasi merpati batu di seluruh dunia ditaksir pada angka 260 juta individu dewasa.

Meski bukan tergolong hewan terancam punah, tetapi penelitian lebih lanjut serta penangkaran sangat diperlukan. Jika tidak, suatu waktu burung yang bersahabat manusia ini juga bisa terancam kepunahan.

Tinggalkan Komentar