Menguak Tabir Perdagangan Gelap sang Primadona, KakaTua Jambul Kuning

Kakatua
Kakatua – Wikimedia.org

Burung kakatua jambul kuning adalah burung asli Indonesia yang terancam punah. Burung yang memiliki warna bulu putih dengan jambul berwarna kekuningan ini telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi sejak tahun 2007. Jumlah populasi burung kakatua jambul kuning di alam liar kurang dari 7.000 ekor saja.

Populasi burung ini semakin langka karena kerusakan habitat dan penangkapan ilegal. Burung ini sudah menjadi kegemaran para pencinta burung sejak lama. Harga jual di pasaran pun sangat tinggi. Satu ekor kakatua jambul kuning di pasar hewan di Jakarta dijual mulai dari harga 4,5 juta rupiah.

Pada Mei 2015 lalu, ditemukan kasus penyelundupan burung kakatua jambul kuning di Tanjung Perak, Surabaya. Di dalam sebuah kapal penumpang ditemukan 21 ekor burung kakatua jambul kuning yang akan diselundupkan dengan cara dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral. Burung-burung tersebut dibius agar tidak bergerak dan bersuara. Beberapa dari burung tersebut akhirnya mati.

Kakatua jambul kuning merupakan komoditi paling dicari di pasar gelap lokal maupun internasional. Di pasar gelap internasional harga 1 ekor kakatua jambul kuning bisa mencapai 2.500 dolar Amerika atau setara 32 juta rupiah.

Penangkapan kakatua jambul kuning kian marak terjadi. Hal ini dinilai karena hukuman untuk pelaku terlalu ringan. Berdasarkan undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang sumber daya alam hayati, seseorang yang sengaja menangkap, melukai, memelihara, dan menjual kakatua bisa dijerat dengan hukuman pidana penjara selama 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.

Burung kakatua jambul kuning merupakan jenis kakatua yang jinak dan mudah akrab dengan manusia. Selain bulu yang indah, kakatua jambul kuning juga memiliki suara yang nyaring sehingga disukai para kicau mania. Burung ini juga dapat menirukan suara manusia.

Burung kakatua jambul kuning adalah unggas yang pintar dan sangat mudah dilatih. Perawatannya pun tidak sulit, makanannya hanya biji-bijian, tak heran banyak penggemar burung yang ingin memelihara burung ini. Sayangnya, banyak yang memelihara burung ini di dalam kandang. Padahal, kakatua jambul kuning hanya bisa berkembang biak di alam bebas. Hal ini membuat populasi mereka semakin terancam.

Semoga pemerintah Indonesia semakin serius menangani perdagangan ilegal burung kakatua jambul kuning. Peran aktif masyarakat pun sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sumber daya hayati Indonesia.

Tinggalkan Komentar