Burung Hantu Yang Menjadi Mitra Petani di Klaten Sampai Dengan Partner Free Fly

Burung hantu kini menjadi salah satu hewan peliharaan terpopuler di kalangan penggemar satwa unik. Selain sebagai satwa hias, burung tersebut kini juga sudah mulai banyak dipelihara untuk partner Free Fly oleh para pemiliknya.

Burung tersebut merupakan salah satu dari beberapa jenis burung yang cerdas. Dan lebih mudah dilatih untuk Free Fly bila dibandingkan dengan jenis burung lainnya. Beberapa pendapat menyimpulkan bahwa burung elang dan burung hantu memiliki sifat sebagai pemburu di habitat aslinya.

Berbeda dengan jenis burung lain yang banyak memakan biji-bijian atau dedaunan sehingga lebih sulit dilatih untuk mengejar atau berburu.

Burung Hantu Menjadi Mitra Petani

Burung hantu - pixabay.com
Burung hantu – pixabay.com

Kemampuan berburu inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh petani-petani di beberapa daerah sebagai mitra pembasmi hama di sawahnya.

Masing-masing persawahan memiliki permasalahan hamanya sendiri sehingga memerlukan penanganan dan mitra pembasmi yang berbeda. Saat ini mulai banyak petani yang memanfaatkan predator alami dari masing-masing hama untuk menyelamatkan sawah atau perkebunannya.

Sebagai contoh, untuk membasmi hama wereng, petani memakai laba-laba, jangkrik, belalang, dan burung merpati sebagai predatornya. Sedangkan untuk membasmi hama tikus, para petani mulai mengandalkan burung hantu atau burung elang sebagai predator alaminya.

Pada tahun 2010, beberapa daerah di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pernah mengalami hampir gagal panen di sawahnya akibat serangan hama tikus. Di beberapa persawahan bahkan pernah diadakan pembasmian massal hama tikus yang melibatkan banyak warganya.

Usaha tersebut tidak membuahkan hasil yang baik. Karena hama tikus termasuk salah satu jenis hewan yang cepat untuk berkembang biak sehingga pada periode berikutnya akan menyerang lagi. Namun, setelah para petani mulai bermitra dengan burung hantu yang menjadi predator alaminya, serangan hama tikus mulai berkurang secara drastis dan memengaruhi jumlah panen selanjutnya.

Para petani di Klaten awalnya hanya memiliki beberapa gupon atau rumah untuk burung hantu di sawah-sawahnya. Namun seiring populer dan efektifnya metode pengusiran hama ini, jumlah gupon dan burung yang menjadi mitra para petani juga semakin banyak. Bahkan metode ini banyak diikuti di beberapa Kota dan Kabupaten lain seperti Kabupaten Sleman, DIY.

Dibandingkan dengan burung elang, burung tersebut kini sudah mulai semakin banyak untuk dijadikan mitra oleh petani di Klaten. Selain karena burung elang lebih sulit untuk ditangkarkan. Penangkaran burung elang juga jumlahnya lebih sedikit apabila dibandingkan dengan burung hantu. Selain itu, menurut beberapa petani, burung elang juga sering merusak gubuk dan menyerang peliharaan petani di rumahnya.

Desa Burung Hantu

Pemburu tikus - pixabay.com
Pemburu tikus – pixabay.com

Burung hantu yang banyak dijadikan mitra memberangus hama tikus adalah jenis Tyto alba  atau Serak Jawa yang sudah dikenal rakus memakan tikus. Dalam sehari, bahkan seekor burung bisa memakan hingga 7 ekor tikus.

Tyto alba cukup mudah didapatkan. Di Demak ada satu desa yang dikenal luas karena banyaknya burung jenis ini yang ditangkarkan di sana. Bahkan karena banyaknya jumlah burung yang ditangkarkan, Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Demak, Jawa Tengah sudah dikenal di seluruh Indonesia dengan sebutan Desa Burung Hantu.

Burung hantu Tyto alba - pixabay.com
Burung hantu Tyto alba – pixabay.com

Untuk mengoptimalkan peran burung ini sebagai pembasmi hama, pemerintah setempat perlu mengawasi aksi penangkapan liar pada burung tersebut. Pemerintah Desa atau Kabupaten/Kota bisa mengeluarkan kebijakan pelarangan perburuan liar burung hantu di daerahnya.

Usaha tersebut tidak membuahkan hasil yang baik. Karena hama tikus termasuk salah satu jenis hewan yang cepat untuk berkembang biak sehingga pada periode berikutnya akan menyerang lagi. Namun, setelah para petani mulai bermitra dengan burung hantu yang menjadi predator alaminya, serangan hama tikus mulai berkurang secara drastis dan memengaruhi jumlah panen selanjutnya.

Karena selain sebagai mitra petani memberantas hama tikus, juga cukup digemari oleh pencinta burung hias karena keeksotisannya.

Tinggalkan Komentar